Malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah terdapat malam Lailatur Qadar di dalamnya. Yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Kemuliaan malam Lailatul Qadar
  • “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4).
  • “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97] : 1).
  • “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5).
  • "Sesungguhnya bulan ini (bulan Ramadhan) telah mendatangi kalian dan didalamnya terdapat ada satu malam yang lebih baik dari seribu bula. Barangsiapa yang diharamkan dari kebaikannya maka ia benar-benar telah diharamkan dari kebaikannya kecuali orang yang sangat merugi". (HR. Ibnu Majah)
Mendapatkan malam Lailatul Qadar
  • “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).
  • “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim).
Imam Sya'rani KS menetapkan jatuhnya malam Lailatul Qadar berdasarkan hari pertama masuknya bulan Ramadhan. Berdasarkan hikayat Imam Sya'rani KS telah mendapatkan malam Lailatul Qadar berdasarkan cara tersebut selama 30 tahun. Kebanyakan para wali Allah telah menemukan malam Lailatul Qadar dengan cara tersebut. Penetapannya sebagai berikut :
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Minggu, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 29.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Senin, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 21.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Selasa, malam Lailatu Qadar jatuh pada malam ke 27.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Rabu, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 19.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Kamis, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 25.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Jum'at, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 17.
  • Jika Ramadhan mulai pada hari Sabtu, malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 23.
Tentang penetapan diatas lihat di : [Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 , cetakan Syirkah al Ma’arif Bandung] , [Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337, cetakan Daar Ihya al Kutub al ‘Arabiyyah] , [Dalam kitab I’anatuththaalibiin juz II halaman 257, cetakan al ‘Alawiyyah Semarang].

Namun walaupun kita tau caranya, jika tidak bersungguh-sungguh untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan memperbanyak ibadah dan taubat nasuha mesti kita tidak akan mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan beberapa penyebab lainnya.

Tanda-tanda pada malam Lailatul Qadar
  • “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi.  Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya).
  • ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150).
  • Dalam Mu’jam At-Tobarani Al-Kabir daripada Waailah bin Al-Asqa’ daripada Rasulullah S.A.W telah bersabda yang artinya : Malam lailatul qadar bersih, tidak sejuk, tidak panas, tidak berawan padanya, tidak hujan, tidak ada angin, tidak bersinar bintang dan daripada alamat siangnya terbit matahari dan tiada cahaya padanya(suram).
  • Merasakan ketenangan dan kelezatan ibadah tidak seperti malam-malam lainnya.
Kisah nabi Muhammad SAW mendapatkan malam Lailatur Qadar :

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk i’tikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir Bulan Suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Nabi SAW ini. Beliau berdiri shalat mereka juga shalat, beliau menegadahkan tangannya untuk berdo’a dan para sahabatpun juga serempak mengamininya. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari Bulan Ramadhan.

Disaat Rasulullah SAW dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan shalatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah SAW dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak. Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.

Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak. seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk kedalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Ketika Rasulullah SAW mengangat kepala dan mengakhiri shalatnya, hujan pun berhenti seketika. Anas bin Malik, sahabat Rasulullah SAW bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW.

Namun beliau pun mencegahnya dan berkata “Wahai anas bin Malik, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya. ” Anas pun duduk kembali dan mendengarkan dengan seksama cerita Rasulullah SAW mengapa beliau begitu lama bersujud. Masya Allah….ternyata ketika tadi Rasulullah SAW, dan disaat hujan mulai turun, disaat itu pula malaikat dibawah pimpinan jibril turun dalam keindahan dan bentuk aslinya. Mereka berbaris rapi dengan suara gemuruh tasbih dan tahmid mereka bergema dilangit dan dibumi serta alam semesta saat itu dipenuhi dengan cahaya ilahi.

Inilah yang membuat Rasulullah SAW terpaku menyaksikan keindahan dan cahaya yang sama sekali tidak pernah dilihat oleh mata. Gema tasbih dan tahmid malaikat yang tak pernah didengar oleh telinga dan suasana yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh pikiran manusia.
Itulah lailatul qadar.

Sumber : https://rumaysho.com

Comments

Popular posts from this blog

Ketawadhuan Al-Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah Dan Kebijaksanaan Ibunya

Aplikasi LangitMusik : Oksigennya Pecinta Musik

Bisikan Kedamaian Dari Kesunyian Malam

Kisah Sang Taman Hati

Situs yang harus diketahui oleh blogger